TAK KAN PERNAH SAMA

Siswa Ikhwan SDIP Imam Nawawi

Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dan orang-orang yang tidak mengetahui (berilmu)Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)

Betapa pentingnya ilmu yang dimiliki seorang muslim, sampai-sampai Allah mengangkat perbedaan keilmuan dengan muslim lainnya sebagaimana ayat di atas dalam bentuk pertanyaan retorika.

Maka berilmulah dengan sebaik-baiknya, bukan untuk dipandang cerdas dan pintar di mata manusia, namun berilmulah untuk mendapatkan cinta dan ridha dari Dzat yang Maha berilmu.

Jika ilmu kita baik, niscaya cinta kepada Allah akan bersemi karena semakin dalam tuk mengenal-Nya, hati menjadi tenang dalam menghamba kepada-Nya, derajat hidup akan ditinggikan sebagaimana janji-Nya dan jalan menuju Jannah dipermudah untuk memasukinya.

Berilmulah, sebagaimana para ahli ilmu mendapatkan ilmu dengan susah payah sebagaimana Imam Syafi’I berkata,

Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, maka sepanjang hidup akan merasakan hinanya kebodohan.

Berilmulah, sebagaimana para ahli ilmu mendapatkan ilmu dengan sabar dan berani bertanya sebagaimana Imam Mujahid pernah berkata,

لَا يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ

“Orang yang malu tidak akan (bisa) mendapatkan ilmu, demikian juga orang sombong.” (HR. al-Bukhari)

Berilmulah, sebagaimana para ahli ilmu mendapatkan ilmu dengan menjauhi maksiat, karena ilmu adalah cahaya dan cahaya tak akan turun kepada orang yang bermaksiat. Imam Syafi’I rahimahullah berkata,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.

Berilmulah, sebagaimana para ahli ilmu mendapatkan ilmu dengan mendatangi bukan didatangi karena para ulama mengatakan “ilmu itu didatangi bukan mendatangi.”

Maka, berilmulah sebagaimana para salaf berilmu karena yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dalam ilmu adalah keberkahan di dalamnya.

Oleh : Krisna Andrianto (Guru di SD Islam Plus Imam Nawawi)